Islam Strategi Bisnis Keuangan Marketing Pemasaran Motivasi Peluang Usaha

Featured Posts

 Pidato Steve Jobs: “Stay Hungry. Stay Foolish” Pidato Steve Jobs: “Stay Hungry. Stay Foolish”... Iseng-iseng browsing internet dapet skrip Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University. Isinya ialah menyangkut kehidupan pribadinya hingga ia mencapai keberhasilan sampai saat ini khususnya atas...

Read more

Tips Manajemen Waktu yang EfektifTips Manajemen Waktu yang Efektif Tiap manusia di bumi ini diberi jatah waktu yang sama, 24 jam dalam sehari. Tetapi mengapa dalam rentang waktu yang sama tersebut, ada orang yang sukses mencapai tujuan hidupnya ada juga yang tidak?. Mungkin...

Read more

Pidato Steve Jobs: “Stay Hungry. Stay Foolish”... Iseng-iseng browsing internet dapet skrip Pidato Steve Jobs di Acara Wisuda Stanford University. Isinya ialah menyangkut kehidupan pribadinya hingga ia mencapai keberhasilan sampai saat ini khususnya atas...

Read more

10 Tips PR yang Cepat dan Mudah ala Brad Sugar Sebuah strategi Public Relation (PR) yang baik adalah sebuah alternatif untuk iklan. PR cara yang efektif dari sisi biaya, untuk mendapatkan ekspos media bagi bisnis untuk: produk Anda, mendapatkan lebih...

Read more

Enam Tingkat Kondisi Keuangan Anda Mungkin sudah banyak yang mendengar istilah Financial Freedom atau Bebas Finansial. Istilah ini terdengar menggiurkan dan menjadi impian orang tanpa mengetahui maknanya. Tentunya untuk mencapai level finansial...

Read more

Cinta Kedua

Posted by Rhanu | Posted in Islam | Posted on 14-06-2009

0

Cinta adalah karunia yang diberikan Allah kepada umat manusia. Dengan rasa cinta seorang manusia dapat melakukan suatu hal yang diluar batas kemampuannya. Kekuatan cinta dapat mendorong perubahan sikap seseorang dalam menjalani kehidupannya. Lantas, sebagai seorang muslim yang beriman harus kemanakah rasa cinta ini berlabuh?

Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu bila Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan tidak mencitai seseorang kecuali karena Allah serta benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan daripadanya, sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke neraka.” (Muttafaq’alaih).

Maka yang pertama wajib dicintai adalah Allah, Rabb yang telah menciptakan seluruh alam semesta dengan berbagai nikmat. Kecintaan seorang mukmin kepada Allah melebihi cintanya kepada selainNya. Selanjutnya, kecintaan kepada RasulNya, Muhammad Saw. Kecintaan kepada Rasul memiliki kedudukan kedua di hati setiap mukmin setelah mencintai Allah. Beliau adalah hamba Allah, RasulNya dan orang pilihan Allah dari segenap makhlukNya. Rasullulah Saw. yang telah menyeru kepada Allah, menyampaikan syariatNya, dan mengajak manusia menuju kebahagiaan yang kekal.

Dan Nabi Saw. telah menyampaikan perlunya kecintaan kepadanya melebihi cintanya kepada selain Allah: “Tidaklah sempurna iman dari salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintai daripada anaknya, orang tuanya dan segenap manusia.” (Muttafaq’alaih).

Umar bin al-Khathab ra. pernah berkata, “Wahai Rasullullah, sungguh engkau adalah orang yang lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Maka Nabi bersaba, “Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Lalu Umar berkata kepada Nabi, “Sesungguhnya engkau (wahai Rasulullah), kini menjadi orang yang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi bersabda, “Sekarang (telah benar engkau) wahai Umar”. (HR.Bukhari)

Mengapa kita sebagai seorang mukmin harus mencintai Rasul melebihi manusia lainnya?. Mencintai Rasulullah Saw. adalah mengikuti sekaligus keharusan dalam mencintai Allah. Mencintai Rasul, adalah cinta karena Allah. Kita mencintai Rasul karena kita mencintai Allah. Ia bertambah seiring dengan bertambahnya kecintaan seorang mukmin kepada Allah.

Barangsiapa menaati Rasul maka sesungguhnya ia telah mantaati Allah.” (An-Nisa’:80)

Kita wajib mentaati Nabi Saw. dengan menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Allah telah menjamin apa yang diucapkannya adalah murni wahyu dari Allah Swt. sebagaimana firmannya:

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya).” (An-Najm; 3-4)

Dengan demikian sudahkah kita mencintai Rasul Swt. melebihi lainnya? Melebihi cinta kita pada diri sendiri, anak, pasangan, atau bahkan harta kita? Apakah kita sudah mengutamakan ajaran yang telah disampaikannya daripada kepentingan lainnya?

Wallahu’alam.

No related posts.

Write a comment