Bank Syariah : Cinta Pertama dan Terakhir
Saya telah diperkenalkan dengan bank oleh Ibu saya saat saya duduk dibangku Sekolah Dasar. Sejak saat itu saya telah memiliki rekening bank lengkap dengan buku tabungannya. Saya merupakan nasabah di Bank Syariah yang merupakan Bank Syariah pertama di Indonesia, yang kebetulan kantor kas-nya berada di lingkungan sekolah saya. Pada saat itu seingat saya tidak ada istilah “Bank Syariah” dan “Bank Konvensional” dan saya-pun saat itu tidak tahu perbedaan keduanya. Yang saya tahu costumer service dan teller tempat saya menabung, semua mengenakan jilbab ataupun peci bagi yang laki-laki. Oleh karena itu saya beranggapan bank ini hanya lebih “Islami” dibanding bank lain, dan saya merasa nyaman dengan hal itu.
Kebiasaan menabung juga sudah ditanamkan oleh Ibu saya sejak kecil. Saya masih ingat, setiap hari Jumat saya diberi uang sedikitnya lima ribu rupiah khusus untuk ditabung ke rekening saya. Sebelumnya, saya sudah membawa beberapa slip setoran kosong, sehingga slip ini dapat diisi oleh Ibu saya dari rumah. Setelah pulang sekolah, dengan seragam sekolah khas hari Jumat berlengan dan celana panjang, saya masuk ke kantor kas bank tersebut. Lalu saya mendatangi meja teller sambil membawa slip setoran yang sudah diisi dengan selembar uang dan tidak lupa juga buku tabungan agar saya bisa melihat penambahan saldo rekening saya. Kemudian saya menyodorkannya ke teller sambil menjijitkan kaki karena meja teller yang menghalangi terlalu tinggi. Saya pikir meja teller saat itu dibuat tinggi untuk menghalangi orang mengambil paksa uang yang ada di teller. Tetapi saya sekarang baru menyadari kalau bukan meja teller-nya yang terlalu tinggi tetapi saya-lah yang waktu itu masih kecil.
Kebiasaaan itu yang ditanamkan Ibu saya tersebut terus berlanjut. Saya mulai menyisihkan uang jajan sedikit demi sedikit untuk ditabung di bank. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Itulah gambaran akan jumlah saldo tabungan saya. Pada saat saya sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), saya mengganti tabungan saya yang dulu khusus untuk anak-anak ke tabungan yang umum tetapi tetap di bank yang sama. Ada alasan kenapa saya tidak pindah ke bank lain saja. Alasannya ialah karena saya sudah mempelajari apa itu Bank Syariah, dan mengetahui perbedaannya dengan bank konvensional.
Isu utama yang menjadi perhatian saya ialah masalah riba. Ternyata bunga yang diberikan kepada nasabahnya bank konvesional mengandung unsur riba yang jelas diharamkan dalam Islam. Tidak tanggung-tanggung ancamannya bagi pemakan riba ialah dijerumuskan ke neraka (HR. Bukhari). Selain itu, Rasulullah SAW juga melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya (HR. Muslim). Ngeri kan?! Saya juga tidak mau nikmat yang saya terima ternyata tidak halal sehingga dapat menghalangi terkabulnya tiap doa permintaan saya kepada Allah SWT sebagaimana yang diceritakan oleh Rasulullah SAW (HR. Muslim). Lebih jauh lagi yang saya pelajari ternyata bunga bank itu menyebabkan adanya penciptaan uang baru (money creation) yang dapat dilakukan oleh bank-bank sehingga dapat menyebabkan inflasi.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan Perbankan syariah di Indonesia semakin pesat. Sampai bulan Maret 2010 ini, sudah tercatat ada lima Bank Umum Syariah (BUS) dan masih beberapa lagi yang mengantri untuk berdiri tahun ini sebagai Bank Umum Syariah. Saya pun sekarang sudah menambah rekening baru di Bank Syariah lainnya. Fasilitas-fasilitas yang diberikan Bank Syariah semakin baik. Kini saya dapat mengecek saldo, mentransfer uang, dan membayar tagihan hanya melalui telepon gengam saya tanpa perlu lelah pergi ke Bank. Fasilitas internet banking pun sudah tersedia sehingga saya dapat melakukan berbagai macam transaksi dan melacak jejak transaksi rekening saya lewat komputer/laptop dari mana saja.
Saya memang sudah jatuh hati pada Bank Syariah. Sampai-sampai saat ini saya mengambil kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam di Bogor. Bagi saya Bank Syariah bukanlah hanya sekedar alternatif bank. Bank Syariah merupakan salah satu solusi bagi masalah perekonomian dunia. Bank Syariah menggengam prinsip Ekonomi Islam yang berkeadilan. Oleh karena itu pula saya mempunyai impian untuk mendirikan Bank Syariah karena dapat memberikan maslahat bagi umat. Saya juga berharap Perbankan Syariah di Indonesia yang mayoritas muslim semakin berkembang dan lebih baik sehingga manfaatnya dapat dirasakan bagi perkonomian rakyat Indonesia.
Related posts:

Assalamualaikum wr.wb!

Selamat sebagai salah satu penerima award minggu kedua april 2010
salam kenal
bareng saya jadi pemenang..
selamat…
Wah, iya! Alhamdulillah…
slamat juga buat p’hari mulya ya!